Senin, 31 Mei 2010

PAK NOER, GUBERNURE WONG CILIK

Liza Wahyuninto

“Siapa Gubernur Jawa Timur?”
“Ya Pak Noer”
“Lho kan sekarang Pakdhe Karwo”
“Dia itu penggantinya”
Kata-kata di atas merupakan anekdot yang sering digunakan oleh orang Madura. Tapi, dari anekdot kecil tersebut dapat menunjukkan betapa kepemimpinan Pak Noer masih dapat dirasakan meskipun ia sudah tidak lagi menjabat sebagai gubernur. Pemimpin sejati yang menjadi panutan serta teladan, begitulah kata yang pantas untuk melukiskan siapa Pak Noer di hati masyarakat Jawa Timur. Bahkan, untuk mengenang dan menghormati perjuangannya, pemerintah provinsi jawa Timur menghimbau agar masyarakat Jatim berkabung selama dua hari.
Dua hari tentulah bukanlah ukuran waktu untuk menghormati apa yang telah Pak Noer berikan kepada Jawa Timur. Selamanya masyarakat akan tetap kehilangan, dan akan tetap merindukan kepemimpinan dari tokoh yang meninggal pada usia 92 tahun tersebut. Pak Noer akan tetap dikenang, terutama setelah ide besar yang dicanangkannya telah menjadi kenyataan, yaitu mimpi untuk membangun jembatan yang menghubungkan antara Surabaya dan Madura (Suramadu).
Ide untuk membangun Jembatan Suramadu telah ia tanamkan dalam dirinya jauh sebelum penguasa orde baru mempunyai inisiatif serupa. Bahkan, ambisinya untuk mewujudkan mimpinya tersebut pernah ia ungkapkan “Kalau nanti saya punya uang, saya yang akan membangun sendiri (Jembatan Suramadu)”. Sungguh ambisius, tapi realistis. Dan apa yang dicita-citakan oleh Pak Noer akhirnya didengar juga oleh pemerintah, dan berdirilah Jembatan Suramadu yang dapat dirasakan oleh semua masyarakat Jatim.
Pak Noer dikenal sebagai pemimpin yang sangat dekat dengan wong cilik. Dari kedekatannya itu, baik kepada para pejabat dan mantan pejabat, Pak Noer selalu berpesan agar jangan menyia-nyiakan rakyat kecil. Buat mereka bahagia. Jadilah orang yang bisa membahagiakan orang lain. Pak Noer telah membuktikan hal tersebut selama dirinya memimpin, rakyat menjadi prioritas utamanya.
Pak Noer tidak pandang siapa dalam bergaul, ia menghormati semua kalangan. Kasta, baginya, merupakan hal utama yang harus dihapuskan ketika akan membangun masyarakat madani. Bahkan, selama hidupnya Pak Noer sangat akrab dengan tukang becak dan pedagang kaki lima. Pak Noer menempatkan masyarakat kecil (wong cilik) sebagai inspirasi terbesar dirinya guna membuat terobosan untuk kemajuan dan kebangkitan bersama.
Kata-kata yang sangat akrab yang disampaikan Pak Noer ketika berhadapan dengan masyarakat kecil adalah, wong cilik kudu gemuyu (rakyat kecil harus tetap bisa selalu tersenyum). Ternyata, sikap kebersahajaan inilah yang membuatnya begitu dicintai masyarakat. Sikap yang tidak mendahulukan siapa yang memiliki jabatan, tetapi melainkan mendahulukan siapa yang lebih membutuhkan. Bahkan dalam acara yang digelar oleh masyarakat bawah sekalipun, Pak Noer selalu menyempatkan diri untuk hadir di dalamnya.
Pak Noer bernama lengkap Raden Panji Mohammad Noer lahir di Kampung Beler, Desa Rong Tengah, pinggiran Sampang, Madura, pada tanggal 13 Januari 1918. Pendidikannya dienyam mulai dari Hindia Indlandsce School (HIS/setingkat SD di zaman colonial belanda) lulus pada 1932, Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO/setingkat SMP) lulus pada 1936, dan Middelbare Opleidings School Voor Inlandsche Ambternaren (MOSVIA/sekolah pendidikan menengah untuk pegawai pribumi) lulus pada 1939.
Pendidikan pulalah yang membuatnya begitu menghargai siapa saja yang ada dalam kehidupannya. Pak Noer juga dikenal sebagai tokoh yang menghargai waktu dan etos kerja. Inilah yang ia wariskan kepada kita yang selama ini sering sekali menyia-nyiakan waktu dan tidak memiliki etos kerja yang tinggi. Selayaknya jika kemudian ia begitu banyak meraih penghargaan, misalnya; Satya Lencana Perang Kemerdekaan, Tanda Kehormatan Bhayangkara, Bintang Gerilya, Satya Lencana Kebangkitan Nasional, sampai pada penghargaan Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia.
Pak Noer menjabat sebagai Gubernur Jatim selama dua periode, yaitu sejak Desember 1967 sampai Januari 1976. Selama dua periode ini landasan kepemimpinannya adalah mengedepankan kepentingan wong cilik. Keyakinan kuat tersebut ia nyatakan dalam sebuah kesempatan, bahwa baginya masyarakat bawahlah yang menggerakkan pemerintahan, bukan malah sebaliknya.
Pak Noer, kiranya akan selalu menjadi Gubernur di hati masyarakat Jawa Timur selama tidak ada pemimpin baru yang mampu menyamai atau bahkan menandingi apa yang telah ia tunjukkan. Wong cilik adalah orang-orang yang paling kehilangan tokoh ini, terutama di saat ini, dimana pemimpin sangat jauh dari yang mereka pimpin. Selamat jalan Pak Noer! Selamanya kami akan merindukanmu. wong cilik kudu gemuyu. Kami akan tetap tersenyum, meski kami bukan siapa-siapa dan hanya dianggap sebagai wong cilik.

Tidak ada komentar: